Dikhawatirkan, Jika Kondisi Covid 19 Tak Berubah Bulan Mei Bisa Memuncak
-->

Header Menu

Dikhawatirkan, Jika Kondisi Covid 19 Tak Berubah Bulan Mei Bisa Memuncak

Redaksi
Jumat, 27 Maret 2020

  Dikhawatirkan, Jika Kondisi Covid 19 Tak Berubah Bulan Mei Bisa Memuncak

AHAD NEWS ■ Pandemi virus Corona atau Corona Virus Disease (Covid 19) yang melanda dunia saat ini, di Indonesia secara tersirat  memunculkan polarisasi dua kubu  yang saling tarik menarik, yakni kubu pengetahuan ekonomi dengan kubu pengetahuan kedokteran.

Pemerintah Indonesia yang sampai sekarang belum mengeluarkan kebijakan lockdown seperti beberapa negara, di antara pertimbangannya adalah faktor ekonomi. 

Dalam pandangan pengetahuan ekonomi, pertimbangan pemerintah yang paling besar adalah faktor ekonomi. Jika diberlakukan lockdown, stabilitas ekonomi akan terganggu, pertumbuhan ekonomi akan melambat dan bahkan perekonomian bisa berhenti.

Di sisi lain, kalangan pengetahuan kedokteran khawatir, jika kebijakan penguncian total atau karantina tidak diambil, jumlah pasien yang terinfeksi Covid-19 akan terus bertambah besar. Hal itu akan menimbulkan persoalan, karena kapasitas rumah sakit dan pelayanan medis sangat terbatas sehingga kemungkinan tidak bisa melayani pasien dengan baik. 

Masalah perdebatan dua kubu tersebut diungkapkan Dr. Sutanto, dosen program studi (Prodi) Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS), dalam kuliah secara daring atau online, menyusul kebijakan social distancing yang diberlakukan di UNS akhir-akhir ini. 

“Saat ini tingkat kematian pasien yang terinfeksi Covid-19 sudah cukup tinggi, yaitu sekitar 8,4 persen dan bahkan sempat menyentuh angka 9 persen. Persentase itu berarti, orang yang sehat dan hidup damai tiba-tiba terinfeksi, tetapi yang bersangkutan tidak mengetahui dirinya terjangkit Covid-19. Mereka menyadari hal itu sudah terlambat, yaitu tatkala gejala atau sakit yang dirasakan sudah parah sehingga meninggal,” ujar Dr. Sutanto kepada wartawan, Kamis (25/3/2020). 

Dia mengingatkan, saat seseorang terinfeksi dan belum mengetahuinya, maka rantai penularan virus akan terus menyebar ke orang-orang yang sehat dan ini kondisi yang cukup berbahaya.

Hal itu berarti, hubungan antara tingkat kematian pasien yang tinggi dengan tingkat penyebaran virus menjadi berkorelasi sangat kuat. Dosen FMIPA UNS itu menggambarkan secara matematis dinamika populasi Covid-19 dengan model  Susceptible, Infected, Quarantine dan Recovery (SIQR).

Dia menjelaskan, model itu terdiri dari suspectible (S), yaitu orang sehat yang rentan terinfeksi, infected (I) adalah individu yang terinfeksi, quarantine (Q) adalah proses karantina dan recovery (R) adalah individu atau kelompok yang telah sembuh dari Covid-19. 

Berdasarkan model SIQR berupa sistem persamaan diferensial yang diselesaikan dengan metoda numerik Runge-Kutta order 4, Dr. Sutanto menyimpulkan, jika tidak ada perubahan penanganan Covid 19 diperkirakan puncak infeksi akan terjadi pada medio Mei 2020. Perkiraan tersebut, katanya, dia dasarkan pada data Covid-19 Indonesia dari  2 Maret sampai 22 Maret 2020. 

“Jika kondisi itu berlanjut, jumlah yang terinfeksi bisa mencapai puncak pada pertengahan bulan Mei 2020, sekitar 2.5 persen dari populasi penduduk di wilayah terinfeksi. Sedangkan berdasarkan prediksi selama 100 hari, penyebaran virus akan menurun pada bulan Juni 2020. Tetapi potensi penularan tidak serta merta hilang,” ujar Dr. Sutanto lagi. 

Dosen FMIPA itu optimis, Covid-19 bisa musnah dari Indonesia tapi tergantung dua parameter, yaitu jika laju karantina (Alpha) semakin besar dibanding laju kontak penderita ke suspectible (Beta). Dalam kaitan itu, dia menyarankan skenario yang bisa dilakukan, yaitu menaikkan laju karantina dan mempertahankan laju kontak di bawah angka 0.9 agar virus hilang sebelum 10 juni 2020.

"Kalau Alpha dan Beta berada pada garis miring, maka virus akan hilang pada tgl 20 Juni 2020 Tapi jika laju kontak lebih besar daripada laju karantina, maka virus masih mungkin menginfeksi Indonesia," jelasnya. 

Dr. Sutanto menambahkan, yang perlu dilakukan saat ini adalah, pemerintah harus segera melakukan rapid test untuk mengetahui individu yang terinfeksi dan yang sehat. Kemudian kelompok yang terinfeksi dipisahkan ke rumah sakit rujukan atau ke Wisma Atlet Kemayoran untuk diisolasi. Masyarakat yang harus sehat dibatasi pergerakkannya, sehingga bisa memperbesar laju Alpha diikuti upaya menekan orang yang masih sehat untuk tetap di rumah sehingga bisa menekan laju Beta.

“Jika Beta sebesar 0.5, dalam simulasi ini maka virus akan hilang sebelum 10 Juni 2020. Jika tidak, kita akan berada di kuadran II dan  ini kondisi yang sangat berbahaya. Tidak perlu berdebat, kita harus bekerja dan segera pilih kuadran I lebih cepat, ekonomi juga akan tetap baik, dunia medis juga tidak akan capek,” pungkas Dr. Sutanto.

Sumber: GM